Pengangguran Dalam Kemajuan Zaman

Oleh A Ramdan

Di Indonesia jumlah pengangguran adalah masalah yang paling sulit diatasi oleh pemerintah sampai saat ini , dimana tercatat setiap tahun jumlah pengangguran terus meningkat karena minimnya lapangan kerja. Pemerintah harus cepat mengatasi permasalahan ini, jika tidak jumlah pengangguran akan terus bertambah tiap tahunnya.

Salah satu penyebab bertambah nya pengangguran di Indonesia adalah banyaknya para pendatang atau pelancong yang mencoba peruntungan untuk beradu nasib di Jakarta yang dating dari kampung ke kota misalnya, setiap seusai libur lebaran kota Jakarta pun menjadi padat membludak tercatat oleh BPS tiap tahun seusai libur lebaran dan setelah memasuki semester akhir tingkat kelulusan anak smk selalu mengalami peningkatan yang saat signifkan.

Jumlah pengangguran yang sangat tinggi membuat lapangan kerja pun tidak dapat menampung para pencari kerja, ditambah minimnya pengalaman dan kurangnya keterampilan dalam dunia kerja membuat sulitnya mendapatkan pekerjaan kebanyakan para pencari kerja yang dating dari kampung ke kota Jakarta hanya bermodalkan ijazah tanpa memiliki keterampilan sehingga sulit bersaing dengan pencari kerja lainnya.

Salah satu karakteristik di Indonesia adalah pengangguran yang cukup tinggi dihadapi oleh tenaga kerja muda usia 17  sampai 24 tahun, jauh lebih tinggi dari rata – rata pengangguran secara nasional. Mahasiswa yang baru lulus dari universitas dan siswa sekolah kejuruan mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan di pasar kerja nasional.terhitung setiap tahun nya hanyak 40 % dari mahasiswa lulusan universitas dan siswa kejuruan yang mendapatkan kerja di pasar nasional.

Pada tahun 2017 namun ada penuruan yang signifikan dari tingkat pengangguran dikarenakan  telah masuknya era pasar bebas banyaknya perusahaan – perusahanan baru membuat banyaknya tercipta lapanagan kerja , ditambah sat ini  setiap para pekerja telah mendapatkan bekal yang cukup dari Pendidikan dalam dunia kerja pada saat sekolah ataupun kuliah, pemerintah pun kini telah menciptakan program pelatihan – pelatihan bagi para lulusan untuk nantinya mendapatkan bekal yang cukup dalam bidang pekerjaan yang diminatinya seperti BLKI ( Badan Lembaga Kerja Indonesia ) . pada progam ini setiap para pencari kerja bagi lulusan akan mendapatkan pelatihan – pelatihan sesuai dengan bidang pekerjaan yang dimanatinya dimana ada pembekalan secara toari maupun praktek langsung.

Di era ecommers yang sudah serba canggih ini di harapkan para pencari kerja pun lebih kreatif dan berharap dapat menciptakan lapangan kerja sendiri dengan memanfaatkan teknologi seperti media social dan internet.  sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran yang ada di Indonesia saat ini. Hadirnya gojek yang memanfaatkan teknologi berpengaruh sangat signifikan terhadap tingakat pengangguran di Indonesia saat ini, sekarang hampir semua masyarakat diindonesia baik tua maupun muda bisa mendapatkan pekerjaan dengan menjadi ojek online, tanpa harus memiliki keterampilan khusus masyarakat pun dapat menjadi mitra gojek hanya dengan memiliki motor dan sim sebagai syaratnya.

Namun dengan hadirnya ojek online saat ini masih menimbulkan konflik sehingga masih terjadi keributan antar warga yang tidak atau belum bisa menerima hadirnya ojek online ini, namun tidak bisa dipungkiri bahwa hadir nya ojek online di Indonesia dapat mengurangi tingkat pengangguran yang di Indonesia dan berharap masyarakat pun harus sadar bahwa teknologi semakin canggih dan itu tidak bisa dipungkuri. Terlepas dari permasalah konflik ojek online ini semoga pemerintah cepat memberikan solusinya agar tidak terjadi keribut keribut seperti sekarang ini.

Rendahnya Minat Baca Masyarakat, Salah Siapa?

Oleh: D Alvionita

Tahukah kamu bahwa negara Indonesia merupakan negara dengan tingkat minat membaca sangat rendah? Menurut data Unisco yang disampaikan oleh Najwa Sihab dalam acara Mata Najwa akhir Juli tahun 2017 lalu, Indonesia menempati sebagai negara ke-2 terendah dalam tingkat membaca untuk tiap tahunnya. Data statistik melampirkan bahwa masyarakat Indonesia hanya mampu membaca 0,001 %. Artinya hanya 1 orang Indonesia yang mampu membaca 1 buku untuk tiap tahunnya.

Buku adalah salah satu ‘transportasi’ kita untuk mendapatkan ilmu. Dengan membaca kita mampu untuk mengasah indera. Jika kita rajin membaca, kita mampu mempelajari apa saja, mampu mengatasi masalah emosional, bahkan mampu menjelajahi dunia. Profesi apapun tentu tidak akan lepas dari proses tulis menulis dan membaca. Semakin pintar seseorang, akan dilihat dari bahan bacaan sehari-hari yang rutin ia baca.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan generasi muda paling banyak. Tingkat kelahiran di Indonesia tiap tahun pun semakin meningkat. Jika generasi muda Indonesia tidak membaca hari ini, Indonesia ke depan mau jadi apa?

SISTEM PENDIDIKAN
Kebanyakan pelajar atau generasi muda Indonesia memiliki minat membaca yang rendah. Pelajar Indonesia sangat sulit menyentuh bahan bacaan. Baik itu bahan pelajaran, maupun fiksi. Salah satu penyebabnya adalah sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Kita ambil contoh sistem pendidikan negara Jepang.

Negara Jepang adalah salah satu negara dengan tingkat membaca sangat tinggi. Pemerintah Jepang menerapkan kurikulum membaca untuk setiap sokolah. Setiap siswa dimulai dari tingkat SD hingga SMA, wajib membaca buku 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Dengan kurikulum membaca ini, siswa di Jepang sedikitnya menamatkan 10 buku dalam setahun.
Bagaimana dengan Indonesia?

KEKURANGAN PENULIS DENGAN PENJUALAN BUKU RENDAH
Selain faktor sistem pendidikan, Indonesia memiliki kesulitan lain yang menyebabkan tingkat membaca rendah. Ya, kekurangan penulis dengan penjualan buku rendah.

Daftar harga buku di Indoenesia sangat mahal. Hal ini lah yang menyebabkan tingkat bajak buku di Indonesia sangat tinggi. Toko buku yang menjual buku asli bekas dengan kualitas buku memadai sangat sulit ditemukan di Indonesia. Kalaupun ada, buku yang ditemukan sudah rusak dan tidak layak baca. Kita harus memperbaiknya, banyak lembaran yang sudah usang, dan bahkan tidak memiliki sampul. Memprihatinkan bukan?

Sistem bagi royalti yang banyak dikeluhkan oleh kalangan penulis di seluruh Indoensia. Bahkan, belakangan ini, akan diterapkan kenaikan pajak royalti bagi penulis Indonesia. Hal ini tentu memberatkan penulis. Oleh sebab itu, penulis Indonesia pun enggan untuk menerbitkan bukunya.

PENDIDIKAN PERTAMA
Pendidikan pertama seorang anak adalah pendidikan di dalam rumah (keluarga). Seorang anak akan mencerminkan kebiasaan keluarganya. Secara psikologi, seorang anak akan berusaha lebih baik dibandingkan kedua orang tuanya, begitupun halnya, orang tua tentu akan mengusahakan yang terbaik untuk anaknya.

Namun, masihkah mendongeng menjadi rutinitas sebelum tidur di setiap rumah? Ya, dahulu, orang-orang banyak menerapkan membaca dongeng untuk mengasah indera perasa bagi sang anak. Hal ini diperlukan bagi psikologi anak. Membaca dongeng semacam nasihat langsung yang disampaikan oleh orang tua. Setiap orang tua tentu menyempatkan sedikitnya waktu satu jam untuk membacakan satu buku dongeng mini bagi sang anak.

Namun, apa yang terjadi hari ini? orang tua sibuk mencari nafkah, bahkan sang anak tidak mampu bertemu dengan orang tuanya barang satu jam saja sebelum tidur. Begini sulitkah mendidik anak sejak dini?

LUNTURNYA BUDAYA INDONESIA
Kurangnya minat membaca anak Indonesia salah satunya ditandai dengan faktor minim pengetahuan budaya. Generasi muda Indoensia bahkan tidak mengerti akan asal usul negara mereka sendiri, baik sejarah Indonesia maupun budaya Indonesia. Hal ini tentu menjadi pasti bahwa setiap anak juga tidak mengetahui asal usul daerah mereka sendiri. Sejarah dan budaya mampu dipelajari dengan membaca buku. Jika seorang anak tidak mampu membaca buku fiksi/hiburan, bagaimana akan mencintai buku sejarah?

Berbagai faktor di atas mampu kita ‘obati’ bersama dengan mengingatkan dan menumbuhkan energi baca bagi semua kalangan di Indonesia. Demi pendidikan Indonesia yang maju. Demi generasi muda Indonesia yang berkualitas.

Kamu ingin tunda membaca?
Kamu wajib baca ulang artikel ini!